Tampilkan postingan dengan label Burung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Burung. Tampilkan semua postingan

Burung Mantenan Atau Sepah Curi Perhatian

Burung Mantenan atau sepah mencuri perhatian
Burung Mantenan atau Sepah Curi Perhatian bagi penikmat suara dan burung berkicau di Indonesia, bagaimana tidak semua berbagai satwa burung di belahan Nusantara ini kian gencar di Eksploitasi dan tak ada hentinya.

Hingga pada suatu hari tertuju pada salah satu burung ini yaitu Burung Sepah atau burung mantenan ( Pericrocotus ), burung ini memang kerap di jadikan sebagai masteran bagi burung lainnya, atau hanya sebagai klangenan di rumah sendiri.

Sedangkan burung mantenan ini ada beberapa macam menurut habitat dan daerah asalnya, dan sudah tentu dari warna dan berbagai ukurannya pun berbeda, berikut ini, beberapa burung Mantenan dari beberapa pulau di Indonesia :

1. Burung SEPAH TULIN ( Pericrocotus igneus )

Inggris : Fierv Minivet;
Melayu: Burung Mas Tulin 

Deskripsi:  Burung sepah berukuran kecil (15 cm), berwarna merah padam dan hitam. Jantan merah terang dengan kepala, punggung, sayap, dan tengah ekor hitam mengkilap serta sapuan jingga pada perut dan sisi ekor. Pada betina, kepala dan punggung abu-abu, muka dan tubuh bagian bawah kuning, berubah menjadi jingga pada penutup bawah ekor dan tunggir. Iris coklat, paruh hitam, kaki hitam. 

Penyebaran Global :
alawan, Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan. 

Penyebaran lokal dan status:
Penetap di Sumatera (termasuk pulau-pulau di sekitarnya) dan Kalimantan. Ditemukan di hutan mangrove dan hutan-hutan sampai ketinggian 200 m di Sumatera.

Kebiasaan: Seperti burung sepah yang lain.
Catatan: Beberapa pakar burung memperlakukan burung ini sebagai ras dari Sepah kecil.

2. Burung SEPAH DAGU-KELABU ( Pericrocotus solaris )

burung sepah atau mantenan
Inggris: Grey-chinned Minivet;
Melayu: Burung Mas Dagu Abu-abu 

Deskripsi: Burung sepah berukuran sedang (17 cm), berwarna merah atau kuning. Jantan berwarna merah, perbedaannya dengan burung sepah lain yaitu tenggorokan dan penutup telinga yang abu-abu gelap suram. Betina berwarna kuning, ciri utamanya yaitu tidak ada warna kuning pada dahi, penutup telinga, dan tenggorokan. Iris coklat gelap, paruh hitam, kaki hitam. 

Penyebaran global:
Himalaya, Cina selatan, Asia tenggara, Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan. 

Penyebaran lokal dan status:
Penghuni tetap yang umum di pegunungan Sumatera dan Kalimantan bagian utara (dari G. Kinabalu ke selatan sampai Liang Kubung dan Penrissen), di hutan-hutan pada ketinggian antara 1.200-2.000 m.

Kebiasaan: Seperti burung sepah yang lain.

3. Burung SEPAH HUTAN ( Pericrocotus flammeus )

burung mantenan hutan
Inggris: Scarlet Minivet.
Melayu: Burung Mas Belukar 

Deskripsi: Burung sepah berukuran besar (19 cm), beraneka warna. Jantan berwarna hitam biru dengan dada dan perut merah, begitu juga tungging, sisi terluar bulu ekor, dan dua bercak pada sayap.
Betina berwarna lebih abu-abu pada punggung. Warna merah pada jantan diganti dengan warna kuning pada betina, yang melebar sampai tenggorokan, dagu, penutup telinga, dan dahi. Iris coklat, paruh hitam, kaki hitam. 

Penyebaran global:
India, Cina selatan, Asia tenggara, Filipina, Semenanjung Malaysia, Sunda Besar, dan Lombok.

Penyebaran lokal dan status: Penghuni tetap di Sumatera (termasuk pulau-pulau di sekitarnya), Kalimantan (distribusi terpencar tetapi tercatat di semua daerah), jawa, dan Bali. Secara lokal umum terdapat di dataran rendah dan perbukitan sampai ketinggian 1.500 m (di Jawa lebih tinggi lagi).

Kebiasaan: Lebih menyukai hutan primer, berlompatan di antara puncak pohon berdaun halus, berpasangan atau dalam kelompok.

4. Burung SEPAH GUNUNG ( Pericrocotus miniatus )

burung sepah gunung
Inggris: Sunda Minivet
Deskripsi: Burung sepah berukuran besar (19 cm), berwarna merah dan hitam dengan ekor panjang. Ciri-ciri betina adalah kombinasi kepala hitam, ekor sangat panjang, dan tidak ada warna merah pada bulu sektmder. Betina cukup unik dengan warna bulu hitam dan merah seperti jantan, warna merah meliputi tenggorokan, dagu, dan dahi, serta mantel yang kemerahan. Iris coklat, paruh hitam, kaki hitam.

Penyebaran global:
Endemik di Sumatera dan jawa. 

Penyebaran lokal dan status: Pegunungan di Sumatera (Leuser dan sepanjang Bukit Barisan sampai Dempu) dan jawa. Umum terdapat di hutan pegunungan pada ketinggian 1.200-2.400 m. Di Bali tidak tercatat. Kebiasaan: Hidup dalam kelompok besar sampai berjumlah 30 ekor. Sering mengunjungi puncak-puncak pohon di dalam serta di dekat hutan primer dan perkebunan pinus, kadang-kadang mengunjungi lahan pertanian.

5. Burung SEPAH KECIL ( Pericrocotus cinnamomeus )

burung mantenan kecil
Inggris: Small Minivet
Deskripsi: Berukuran kecil (15 cm), berwarna abu-abu, merah, dan hitam. Perbedaannya dengan burung sepah lain adalah kepala dan mantel jantan abu-abu serta tubuh bagian bawah betina keputih-putihan dan lebih buram. Iris coklat, paruh hitam, kaki hitam. 

Penyebaran global:
India, Asia tenggara (kecuali Semenanjung Malaysia), Kalimantan,jawa, dan Bali.

Penyebaran lokal dan status: Status di Kalimantan tidak diketahui. Pada akhir abad yang lalu, seekor dikoleksi di Kalimantan selatan, mungkin merupakan pengembara dari Jawa. Penghuni tetap di Jawa dan Bali, tersebar luas dan cukup umum terdapat di dataran rendah. Di Sumatera dan Kalimantan, digantikan keberadaannya oleh Sepah tulin.

Kebiasaan: Lebih menyukai hutan terbuka, hutan mangrove, tanah pertanian, dan pedesaan. Terbang dalam kelompok kecil yang aktif dan ribut, mencari makan di puncak pohon-pohon yang tinggi.

6. Burung SEPAH PADANG ( Pericrocotus divaricatus )

burung sepah mantenan padang
Inggris: Ashy Minivet.
Melayu: Burung Mas Padang
Deskripsi: Burung sepah berukuran besar (20 cm), berwarna hitam, abu-abu, dan putih khas. Perbedaamaya dengan burung kapasan yaitu ukuran lebih besar dan tidak ada garis sayap, dengan Bentet-kedasi yaitu tubuh bagian bawah yang putih dan tunggir abu-abu.

Jantan memiliki topi, setrip mata, dan bulu terbang hitam, serta bagian atas abu-abu dan bagian bawah putih. Betina lebih pucat dan lebih abu-abu.
Iris coklat, paruh hitam, kaki hitam.

Penyebaran global:
Asia timur laut dan Cina timur. Pada musim dingin, bermigrasi ke selatan sampai Asia tenggara, Filipina, dan Sunda Besar.

Penyebaran lokal dan status: Tercatat di Sumatera dan Kalimantan bagian utara. Pengunjung tidak tetap di dataran rendah pesisir, jarang ditemukan pada ketinggian lebih dari 900 m.

Kebiasaan: Memburu serangga pada tajuk pohon. Sewaktu terbang, kurang terlihat mencolok dibandingkan dengan burung sepah yang berwarna terang. Membentuk kelompok sampai 15 ekor.

Ini adalah salah satu bentuk dari suara burung Mantenan atau Sepah, Simak saja

Gara-Gara Si Wiwik Harga Burung Jatuh

Burung wiwik kelabu perusak harga
Ini adalah salah satu musuh besar bagi para penggemar burung lomba, dan karena burung inilah harga burung menjadi drop atau jauh menjadi murah, saya sendiri kurang begitu paham dalam hal ini mengapa jadi demikian.

Bagi anda yang belum pernah melihat bentuk burungnya tapi mungkin sudah banyak yang mendengar salah satu suara burung ini, seperti inilah burung yang paling banyak di buru oleh para pecinta burung kontes untuk di musnahkan, ( maksudnya suaranya nya itu )

Bagaimana tidak panik jika salah satu burung kontes mereka menyanyikan lagunya si wiwik, yang jelas pastinya akan pusing, karena jika sudah hafal lagunya si wiwik, si burung akan susah melupakannya, mungkin menurut burung ( red: kontes ) sangat enak di dibawakannya.

Dia adalah yang bernama burung Wiwik Kelabu, burung perusak lagu atau ocehan burung-burung kontes,  wikwik kelabu adalah sejenis burung anggota suku kangkok (Cuculidae). 

Burung wiwik ini kerap ditemui di lingkungan pedesaan atau dia akan bernyanyi di pohon-pohon yang lumayan tinggi dan burung ini dikenal dengan banyak nama, mulai dari kedasih atau daradasih (nama umum, Jawa.), kedasi, sit uncuing, sirit uncuing, atau manuk uncuing "emprit ganthil", dan yang lebih familiar burung ini disebut burung orang meninggal menurut anak-anak Betawi.

Burung Wiwik Kelabu ini mempunyai bahasa ilmiahnya Cacomantis Merulinus, dan dalam bahasa Inggrisnya burung ini dinamai Plaintive Cuckoo karena suaranya yang mendayu-dayu, orang Belanda menyebutnya ( Kleine ) Piet van Vliet mengikuti bunyi panggilannya yang khas.

Biodata si Wiwik ini adalah, burungnya berukuran agak kecil; panjang tubuh (dari ujung paruh hingga ke ujung ekor) sekitar 21 cm, burung dewasa berwarna kelabu di kepala, leher dan dada bagian atas. Punggungnya merah kecoklatan dan perutnya kuning jingga, sisi bawah ekor dengan warna putih di ujung-ujung bulu yang kehitaman.

Burung muda berwarna burik, kecoklatan dengan garis-garis hitam di sisi atas tubuh, dan keputihan dengan garis-garis hitam yang lebih halus, burung betina kadang-kadang berwarna seperti burung muda, sehingga mungkin terkeliru dengan burung Wiwik lurik ( C. sonneratii ) yang berkerabat. Bedanya, Wiwik lurik memiliki alis dan pipi keputihan, iris mata berwarna merah. Paruh kehitaman di atas dan kekuningan di bawah. Kaki kuning. 




Meski suaranya sering terdengar, wiwik kelabu agak sukar teramati, dia bunyi dalam kelindungan tajuk pohon tanpa bergerak-gerak atau berubah posisi, tidak jarang pula suara ini terdengar di malam hari, di musim berpasangan, burung-burung ini aktif berkejaran sambil bersuara pendek

Sebagaimana kerabatnya yang lain ( marga Cacomantis, Cuculus dan Chrysococcyx ), Wiwik kelabu adalah burung yang bersifat parasit. 

Burung ini  konon katanya tidak membuat sarangnya sendiri, akan tetapi dia akan menitipkan telur-telurnya pada sarang burung-burung kecil seperti burung cinenen, perenjak, pijantung, cica-daun dan lain-lain, untuk menjamin kelangsungan hidup anaknya, warna bulu burung kedasih muda dan dewasa pun berbeda, perilaku inilah yang menjadikan burung wiwik kelabu sebagai burung parasit.

Telurnya berwarna kebiruan atau berbintik keputih-putihan, mirip meski lebih besar daripada– telur burung yang dititipinya.

Kerap sekali oleh sebagian masyarakat pada umumnya, burung wiwik kelabu dipercaya sebagai burung orang mati, kareena suara kicauannya dianggap sebagai pertanda datangnya atau adanya orang mati.

Dengan mendapat predikat nama burung orang mati inilah, Burung wiwik kelabu ini sangat tidak disukai oleh para kontes mania burung kicau dimanapun, karena ( JIKA ) dengan adanya suara burung wiwik kelabu atau burungnya orang mati ini telah ada di burung kontes nya, maka dipastikan harga burung mereka pun menjadi mati alias jatuh. Ada - ada saja yah...?

Mau dengar lagu yang di bawakan oleh si wiwik, ini dia lagunya

Cenderawasih Botak | Cicinnurus Respublica

Selaku termasuk burung hias, cenderawasih banyak di buru
Ternyata Indonesia tidak akan pernah habis dalam hal burung -  burung langka ini termasuk di dalamnya adalah Burung Cenderawasih, dan lagi - lagi Papua adalah salah satu penyumbang terbanyak dalam hal burung hias di Indonesia.

Burung Cendrawasih ( Bird of Paradise) adalah salah satu spesies fauna endemik yang sangat populer asal tanah Papua. 

Begitu terkenalnya sehingga namanya sering dipakai untuk menamai berbagai tempat dan aktifitas di provinsi tertimur ini. 

Dari 27 jenis yang terdapat di tanah Papua 6 Jenis jenis burung Cendrawasih yang mendiami “Surga” hutan dataran rendah di Kabupaten Raja Ampat antara lain : 
  • Burung Cendrwasih Botak (Cicinnurus respublica), 
  • Cendrawasih Raja (Cicinnurus regius), 
  • Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra), 
  • Cendrawasih Kuning-kecil (Paradisaea minor pulchra), 
  • Cendrawasih Belah-rotan (Cicinnurus magnificus) 
  • Cendrawasih 12 Antena (Seleucidis melanolevca).
Sebut saja salah satunya dari beberapa jenis Burung Cenderawasih di antaranya adalah, Cendrawasih Botak atau dalam nama ilmiahnya Cicinnurus respublica adalah sejenis burung pengicau berukuran kecil, dengan panjang sekitar 21cm long, dari marga Cicinnurus. 

Burung jantan dewasa memiliki bulu berwarna merah dan hitam dengan tengkuk berwarna kuning, mulut hijau terang, kaki berwarna biru dan dua bulu ekor ungu melingkar. Kulit kepalanya berwarna biru muda terang dengan pola salib ganda hitam. Burung betina berwarna coklat dengan kulit kepala biru muda.

Endemik Indonesia, Cendrawasih botak hanya ditemukan di hutan dataran rendah pada pulau Waigeo dan Batanta di kabupaten Raja Ampat, provinsi Papua Barat. Pakan burung Cendrawasih Botak terdiri dari buah-buahan dan aneka serangga kecil.

Penamaan ilmiah spesies ini diberikan oleh keponakan Kaisar Napoleon Bonaparte yang bernama Charles Lucien Bonaparte dan sempat menimbulkan kontroversi

Bonaparte, seorang pengikut aliran republik, mendeskripsikan burung Cendrawasih Botak dari spesimen yang di beli oleh seorang ahli biologi Inggris bernama Edward Wilson beberapa bulan sebelum John Cassin, yang akan menamakan burung ini untuk menghormati Edward Wilson. 

Tigabelas tahun kemudian, ahli hewan Jerman yang bernama Heinrich Agathon Bernstein menemukan habitat Cendrawasih Botak di pulau Waigeo.

Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan yang terus berlanjut, serta populasi dan daerah dimana burung ini ditemukan sangat terbatas, Cendrawasih Botak dievaluasikan sebagai beresiko hampir terancam di dalam IUCN Red List. Burung ini didaftarkan dalam CITES Appendix II.


Ancaman terhadap kepunahan populasi ini merupakan hal yang serius dan harus menjadi perhatian Pemerintah Daerah terutama terhadap tindakan pemanfaatan untuk kesenangan maupun tujuan secara ilegal, tetapi hal terpenting adalah masalah kerusakan habitatnya, sehingga proses penangkapannya telah di larang sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Eksosistemnya dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. 

Dampak kekuatiran atas kegiatan manusia yang tidak ramah lingkungan terhadap pemanfaatan dan kerusakan habitatnya akan mengakibatkan kemunduran populasi yang berakibat kepunahan spesies yang panjang.

Sumber : wikipedia & buletin konservasi

Cenderawasih Raggiana | Paradisaea Raggiana

Burung Cenderawasih Paradisaea raggiana
Daerah penyebarannya Cendrawasih Raggiana terdapat di hutan hujan tropis, hutan dataran rendah, perbukitan dan pegunungan pulau Irian bagian selatan, dari permukaan laut sampai ketinggian 1.500 meter.

Cendrawasih Raggiana adalah poligami spesies. Burung jantan memikat pasangan dengan ritual tarian yang memamerkan bulu-bulu hiasannya.

Setelah kopulasi, burung jantan meninggalkan betina dan mulai mencari pasangan yang lain. 

Burung betina biasanya menetaskan dua butir telur berwarna merah muda dan mengasuh anak burung sendiri. Pakan burung Cendrawasih Raggiana terdiri dari buah-buahan dan aneka serangga.

Cendrawasih raggiana atau dalam nama ilmiahnya Paradisaea raggiana adalah sejenis burung pengicau berukuran sedang, dengan panjang sekitar 34cm, dari genus Paradisaea. 

Burung ini berwarna kuning dan coklat, berparuh abu-abu kebiruan, mulut merah muda, iris mata berwarna kuning dan kaki berwarna abu-abu coklat keunguan.




Burung jantan dewasa memiliki bulu-bulu hiasan beraneka warna merah, jingga dan warna campuran antara merah-jingga pada bagian sisi perutnya, tenggorokan berwarna hijau zamrud gelap, bulu bagian dada berwarna coklat tua dan diekornya terdapat dua buah tali yang panjang berwarna hitam. 

Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan, dengan muka berwarna coklat dan tidak punya bulu-bulu hiasan.

Nama spesies ini memperingati seorang bangsawan dari Genoa, Italia bernama Francis Raggi. Cendrawasih Raggiana adalah fauna nasional negara Papua Nugini.

Spesies ini mempunyai daerah sebaran yang luas dan masih sering ditemukan di habitatnya, Cendrawasih Raggiana dievaluasikan sebagai beresiko rendah di dalam IUCN Red List. Burung ini didaftarkan dalam CITES Appendix II.

Sumber : wikipedia

Cenderawasih Raja Dari Dataran Rendah Papua

Si Raja Burung Cenderawasih dari Papua
Indonesia adalah slah satu negara yang banyak mempunyai keaneka ragaman bermacam - macam spesies mahkluk hidup, terutama banyaknya ragam jenis burung yang hidup di negara ini.

Satu lagi bukti kekayaan Indonesia dengan keanekaragaman hewani, untuk yang satu ini adalah Ragam dari jenis burung, Burung Cendrawasih Raja (Cicinnurus regius) adalah salah satu jenis dari keaneka ragaman spesies dari Burung Cenderawasih.

Cendrawasih raja, (bahasa Latin: Cicinnurus regius), adalah burung pengicau dari anggota famili Paradisaeidae (burung cendrawasih) yang panjang tubuhnya sekitar 16cm. 

Burung jantan berwarna merah tua terang dan putih dengan kaki berwarna biru terang dam memiliki bulu-bulu mirip kipas yang warna ujungnya hijau di pundaknya. 

Dua ekornya yang memanjang ujungnya berhiaskan uliran bulu hijau zamrud. Burung betina berwarna coklat dan bawahnya bergaris-garis.

Cendrawasih raja tersebar di seluruh hutan dataran rendah di pulau Papua dan pulau-pulau terdekat. Dalam bahasa Inggris, burung ini disebut dengan "Cendrawasih raja, (bahasa Latin: Cicinnurus regius), adalah burung pengicau anggota famili Paradisaeidae (burung cendrawasih) yang panjang tubuhnya sekitar 16cm. Burung jantan berwarna merah tua terang dan putih dengan kaki berwarna biru terang dam memiliki bulu-bulu mirip kipas yang warna ujungnya hijau di pundaknya. Dua ekornya yang memanjang ujungnya berhiaskan uliran bulu hijau zamrud. Burung betina berwarna coklat dan bawahnya bergaris-garis.

Cendrawasih raja tersebar di seluruh hutan dataran rendah di pulau Papua dan pulau-pulau terdekat. Dalam bahasa Inggris, burung ini disebut dengan "living gem" ("permata hidup") yang merupakan burung cendrawasih paling kecil dan berwarna-warni. Makanan utamanya terdiri dari buah-buahan dan artropod.

Burung jantan akan membawakan tarian yang indah dengan mengayun-ayunkan ekornya, mengepak-ngepakkan bulu perut putihnya yang membuatnya mirip bola kapas dan bandul akrobatik.

Karena tersebar luas dan umum ditemukan di habitatnya, Cendrawasih Raja dievaluasi beresiko rendah di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix II." ("permata hidup") yang merupakan burung cendrawasih paling kecil dan berwarna-warni. Makanan utamanya terdiri dari buah-buahan dan artropod.


cenderawasih dari papua


Burung jantan akan membawakan tarian yang indah dengan mengayun-ayunkan ekornya, mengepak-ngepakkan bulu perut putihnya yang membuatnya mirip bola kapas dan bandul akrobatik.

Karena tersebar luas dan umum ditemukan di habitatnya, Cendrawasih Raja dievaluasi beresiko rendah di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix II.

Sumber : wikipedia

Kakatua Maluku Selatan, Hilang Dari Habitatnya

Burung Kakatua Maluku Selatan Hilang di habitatnya
Kakatua maluku atau dalam nama ilmiahnya Cacatua moluccensis adalah burung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 52cm, dari genus Cacatua.

Burung ini mempunyai bulu putih bercampur warna merah-jambu. Di kepalanya terdapat jambul besar berwarna merah-jambu yang dapat ditegakkan. 

Bulu-bulu terbang dan ekornya berwarna jingga kekuningan. Burung betina serupa, dan biasanya berukuran lebih besar dari burung jantan.

Endemik Indonesia, daerah sebaran kakatua maluku adalah di Maluku Selatan. Spesies ini hanya terdapat di hutan primer dan sekunder Pulau Seram, Ambon, Pulau Haruku dan Saparua.

Sejumlah populasi kakatua Maluku dilindungi di Taman Nasional Manusela, yang merupakan salah satu tempat terakhir untuk menemukan burung ini di habitat liar. Pakan kakatua Maluku terdiri dari biji-bijian, kacang dan aneka buah-buahan.


burung kakatua maluku selatan


Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan dan penangkapan liar yang terus berlanjut untuk perdagangan, serta daerah burung ini ditemukan sangat terbatas, kakatua Maluku dievaluasikan sebagai Rentan di dalam IUCN Red List. Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix I dan II sejak tahun 1989.

Sumber : wikipedia

Kakatua Putih Dari Maluku Utara

Umbrella Cockatoo
Kakatua putih atau dalam nama ilmiahnya Cacatua alba adalah burung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 46cm, dari genus Cacatua. Burung ini hampir semua bulunya berwarna putih. 

Di kepalanya terdapat jambul besar berwarna putih yang dapat ditegakkan. Bulu-bulu terbang dan ekornya berwarna kuning. Burung betina serupa dengan burung jantan.

Endemik Indonesia, daerah sebaran kakatua putih adalah di kepulauan Maluku Utara. Jenis ini hanya ditemukan di hutan primer dan sekunder pulau Halmahera, Ternate, Tidore, Kasiruta, Mandiole dan Bacan. 

Hasil kajian Burung Indonesia pada tahun 2008/2009 menunjukkan populasi terbesar jenis ini berada di bagian barat (semenanjung utara dan selatan) Pulau Halmahera. 

Meskipun demikian, selama 10 tahun populasi tersebut jauh menurun dibandingkan hasil survey yang dilakukan pada tahun 1999.

Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan dan penangkapan liar yang terus berlanjut untuk perdagangan, serta termasuk dalam jenis burung dengan sebaran yang terbatas, kakatua putih dievaluasikan sebagai Rentan di dalam IUCN Red List. Jenis ini didaftarkan dalam CITES Appendix II.

Saat ini kakatua putih belum termasuk jenis satwa yang dilindungi, namun bukan berarti bebas ditangkap begitu saja. 




Pada tahun 2001 hingga kini, tidak ada kuota tangkap untuk kakatua putih. Artinya tidak boleh ada penangkapan kakatua putih di alam (Maluku Utara) untuk tujuan komersil. 

Namun ternyata kuota tangkap nol ini tidak ada artinya karena pada tahun 2002 rata-rata setiap tahunnya ada sekitar 500 ekor kakatua putih yang ditangkap dari alam untuk diperdagangkan. 

Sementara itu pemantauan ProFauna Indonesia di sejumlah pasar burung di Jawa pada tahun 2006, rata-rata dalam setahun ada sekitar 100 ekor kakatua putih yang diperdagangkan. 

Di pasar burung, kakatua putih ditawarkan seharga rata-rata Rp 500.000 per ekor.

Penangkapan kakatua putih secara terus menerus di Maluku Utara menyebabkan burung ini telah menghilang dari beberapa kawasan di Pulau Halmahera. 

Profauna melakukan banyak wawancara informal dengan penduduk desa soal keberadaan kakatua putih di alam. 

Banyak di antara mereka yang menyatakan bahwa faktor utama hilangnya kakatua putih dalam 12 tahun terakhir ini adalah faktor penangkapan di alam secara besar-besaran.

Melihat laju penangkapan dan perdagangan serta telah hilangnya kakatua putih di beberapa wilayah di Halmahera, maka sudah saatnya burung ini ditetapkan sebagai jenis satwa yang dilindungi. 

Apalagi burung ini juga termasuk satwa endemik Maluku Utara.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 (pasal 5),
suatu jenis satwa wajib ditetapkan dalam golongan dilindungi apabila telah mempunyai kriteria:
  • Mempuyai populasi kecil
  • Adanya penurunan yang tajam pada jumlah individu di alam.
  • Daerah penyebaran yang terbatas (endemik).
Dengan demikian kakatua putih sebetulnya telah memenuhi kriteria untuk dimasukan dalam daftar jenis satwa yang dilindungi.

Sumber : wikipedia

Kakatua Tanimbar, Terancam Punah

Burung Jenis ini Terancam Punah Juga
Kakatua ganimbar, Kakatua goffiniana, atau Kakatua goffin, adalah spesies kakatua asli dan endemik dari hutan kepulauan Laut Banda di Indonesia. 

Berat burung ini rata-rata sekitar 350 gram dan panjang sekitar 31 sentimeter dari kepala hingga ekor. 

Kakatua Goffin adalah yang terkecil dari seluruh Cacatuinae. Saat penemuan pertama, hewan ini tampak seperti kakatua putih dengan sebagian bulu wajah merah jambu, dan paruh abu-abu pucat. Jantan dan betinanya serupa.

Seperti seluruh anggota Cacatuidae, Kakatua goffin memiliki jambul, yang berarti hewan ini memiliki sekumpulan bulu pada kepalanya yang dapat mengambang atau menguncup. 

Tubuhnya terutama tertutup oleh bulu-bulu putih, dengan bulu berwarna salmon atau merah jambu di antara paruh dan mata. 

Bagian dalam (proksimal) dari bulu jambul dan bulu leher juga berwarna salmon, namun pewarnaan disini tersembunyi oleh warna putih yang bagian terdapat di permukaan (distal) bulu-bulu itu. 

Bagian dalam bulu sayap dan ekornya menunjukkan warna kekuningan. Antara matanya berwarna antara coklat hingga hitam. Hewan ini sulit dibedakan dengan Corella kecil karena penampilannya yang serupa.

Terkait dengan habitan yang hilang, (Di Tanimbar, kebanyakan hutan telah gundul) ruang terbatas dan perburuan liar, Kakatua goffin dievaluasi Beresiko Rendah dalam IUCN Red List untuk Spesies Terancam.

Spesies ini didaftarkan pada Appendix I CITES. Tahun 1970-an, penebang kayu Jepang merusak pulau. Burung-burung ditangkap untuk ajang binatang peliharaan. 




Meskipun banyak yang stres karena dikandangkan, mungkin hal ini menjadi hal penting di belakang bencana ekologi ini, karena banyak Kakatua Goffin bereproduksi dalam program penangkaran. Demikian, sekarang terdapat banyak Kakatua Goffin di penangkaran daripada di alam liar.

Sumber : Wikipedia

Burung Cikrak Daun Turun Gunung

Ocehannya mampu menandingi burung pleci
Nama burung nya adalah Cikrak Daun banyak juga dengan sebutan burung pare - pare, Burung Tralis atau bisa juga di sebut burung blereng, mungkin burung ini lepas perhatian para kicau mania di pasar.

Fisiknya memang sangat kecil mungkin sebesar burung pleci kacamata yang kuning bisa jadi lebih kecil sedikit dari burung pleci, saya sering juga melihat burung di ini di jual dipasaran, karena sayapun belum pernah mendengar corak suara kicauannya jadi burung cikrak daun ini hanya di lihat saja.

Disamping itu burung ini menurut saya mungkin tidak lebih hanya bunyi cit..cit..cit. apalagi dipasar burung tersebut sangat liar karena hasil tangkapan hutan, untuk harga memang bisa di atas harga burung pleci alas, atau mungkin bisa juga seharga burung Gelatik batu saat ini.

Cikrak daun ini penyebarannya di beberapa pulau di Indonesia di antaranya adalah, Palawan, Semenanjung Malaysia, Sunda Besar, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Malaysia serta Filipina.

Ras yang terbatas terdapat di Gunung Kinabalu warnanya lebih abu-abu dan warna kuning yang kurang mencolok, Iris hampir hitam, paruh atas hitam, paruh bawah kemerahan serta kaki yang berwarna keabu-abuan. 

Suara burung cikrak daun tidak kalah dengan burung sejenis Pleci, Gelatik batu, Blackthroat maupun Mozambiq Sangat cocok dipelihara untuk memancing burung jenis lainnya berbunyi, dan sepertinya anda pun pasti akan menyukainya jika telah mendengar kicauannya, sangat atrkatif.

Burung Cikrak daun Mountain Leaf Warbler, mempunyai bahasa Latinnya adalah  Phylloscopus trivirgatus, yang merupakan spesies burung dari keluarga Sylviidae, dari genus Phylloscopus. Burung ini merupakan jenis burung pemakan ulat kupu, kumbang kecil, lebah, semu dan memiliki habitatnya di hutan gunung, perbukitan, tepi hutan, zona alpin, tersebar pada ketinggian 800-3.000 m dpl.


Informasi Ciri - ciri Burung Cikrak daun memiliki tubuh berukuran agak kecil (11 cm). Setrip mahkota tengah dan alis mata kekuningan mencolok, tubuh bagian atas kehijauan, tanpa garis pada sayap, tubuh bagian bawah kekuningan, iris hampir hitam, paruh atas hitam, paruh bawah kemerahan, kaki keabu-abuan. 

Suka mengunjungi puncak pohon tinggi, hidup dalam kelompok berbaur dengan jenis lain, mencari makan pada tajuk, paku-pakuan, anggrek epifit, mohon maaf untuk jantan dan betinanya saya sendiri kurang paham, mungkin dapat disimpulan untuk jantan warna lebih cerah dari betina.

Sarang berupa tumpukan tidak rapat, dari lumut, pada pohon, pakis, batu, atau tanaman tepi jalan, dekat permukaan tanah. Telur berwarna putih, jumlah 2 butir. Dan kabarnya Berbiak pada bulan Januari-Oktober

Cara merawatnyapun sangat mudah dan gampang, perawatan burung ini hampir sama dengan perawatan burung berkicau lainnya seperti Ciblek, Prenjak dan Tledekan, hanya saja untuk burung cikrak daun lebih sensitif jadi harus selalu diperhatikan ketersediaan dari Voer dan Extra Foodingnya yang berupa UK ( Ulat Kandang) dan UB (Ulat Bambu). 

Kalau anda mendapatkan burung ini dalam kondisi sama sekali belum makan voer, agar burung bisa berumur panjang sebaiknya segera dilatih untuk mau makan voer caranya bisa dilihat disini.

Kesimpulannya adalah, burung cikrak daun ini tak kalah suaranya dari burung pleci yang sampai saat ini masih menjadi idola para penikmat suara burung berkicau, namun jika anda telah mendengarnya pasti anda pun mempunyai petimbangan dan alasan tersendiri mengapa burung Cikrak Daun ini tidak atau belum masuk kategori burung Kontes.

Mau Tau suara burung Cikrak Daun, Ini dia Ocehannya..pasti anda suka.

Burung Kakatua Raja Hitam Dari Papua

Kakak Tua Raja Hitam Dari Daratan Papua Irian jaya
Burung Kakatua Raja ( Probosciger aterrimus ) adalah burung terbesar dari semua burung kakatua, dengan mempunyai tinggi mulai 49-68 cm dan berat mereka rata - rata mencapai 500-1.100 gr, dengan berat betina berkisar 500-950 gr, dan yang jantan berkisar 540-1.100 gr.

Panjang sayap sekitar 35.1 cm, panjang ekor 23.8 cm, panjang paruh 9.1 cm, dan panjang kaki rata-rata 3.5 cm. Kakatua Raja adalah satu-satunya burung di marga tunggal Probosciger. 

Kakatua Raja hampir semua tubuhnya berwarna hitam, dan paruh mereka tidak bisa berdekatan sama sekali, dan selalu mengungkapkan sedikit lidah mereka yang berwarna merah dengan ujung hitam, bagian mulutnya yang terbuka memudahkannya untuk menahan kacang atau biji-bijian di dalam mulut mereka dan memecahkannya pada waktu yang sama.

Paruh bawah mereka dirancang keras untuk menghancurkan kacang dan paruhnya lebih besar Jantan daripada betina.

Kaki mereka berwarna abu-abu / hitam dengan sedikit bulu-bulu di paha mereka dan pada wajah mereka terdapat karakteristik yang paling istimewa yaitu terdapat warna merah di pipinya.  

Pipi mereka dapat berubah warna kulit berdasarkan tingkat kesehatan atau stres sehingga ketika stres berat kulit akan berubah warna ke merah muda / krem, sementara ketika sangat bersemangat / gembira perubahan kulit menjadi kuning. ( Unik Ya? )
 
Jangkauan Geografis
  • Kakaktua Raja merupakan hewan asli pulau Papua, dan Australia. Hewan ini biasanya ditemukan di kepulauan Aru, pulau Misool di bagian barat pulau Papua, Irian Barat, Selatan New Guinea dari Timur Marauke sampai teluk Papua, dan di Australia pada kawasan utara tanjung York Peninsula.
Habitat
  • Kakaktua Raja ditemukan di hutan hujan tropis, termasuk pinggiran hutan. Mereka memilih pohon-pohon besar dan tinggi untuk bersarang dan berkembangbiak. Pada siang hari mereka berdiam di dekat makanan atau sumber air dan pada malam hari bertengger di dalam atau di dekat sarangnya.
Perilaku
  • Burung Kakaktua Raja dapat ditemukan sendirian ataupun berpasangan, dan kadang dalam kelompok yang lebih besar, mereka menghabiskan banyak waktu mereka di kanopi hutan yang tinggi atau terbang di antara tempat bertengger dan mencari makan. Mereka sering makan dalam kelompok besar, di mana satu burung penjaga akan mengamati predator yang ada. Jika pemangsa atau ancaman lainnya muncul, para “penjaga” memberikan alarm menangis untuk memberitahukan yang lain. Dalam kondisi hujan mereka dapat ditemukan tergantung terbalik dengan sayap dan ekor mereka terulur, seolah-olah sedang mandi.
Reproduksi
  • Selama kawin burung jantan dan betina berdekatan satu sama lain dengan sayap dibuka lebar. Sebelum melakukan perkawinan jantan akan membuat siulan yang keras dan menunduk-nundukkan kepalanya berkali-kali hingga kulit diwajahnya berubah menjadi sangat merah. Kakatua raja adalah monogami dan tinggal bersama pasangannya sempanjang hidupnya.

Musim kawin bervariasi sesuai dengan iklim setempat. Tetapi biasanya dari bulan Agustus hingga Januari. Kakatua raja tidak dapat membuat lubang sarang sendiri, melainkan mereka menggunakan lubang di pohon besar yang telah dilubangi sebelumya.

Burung kakatua raja hanya bertelur satu telur per sarang, dimana telur tersebut akan dierami selama 30-33 hari.


Hubungan Kakatua Raja Probosciger aterrimus dengan keadaan Hutan di pulau Papua. 

Papua adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Papua atau bagian paling timur West New Guinea (Irian Jaya).

Belahan timurnya merupakan negara Papua Nugini atau East New Guinea. Pulau ini memiliki luas 420.540 Km2. Papua ini secara geografis terletak pada 2025’ – 90 LS dan 1300 – 1410 LU sehingga pulau papua ini memiliki iklim tropis dengan curah hujan 1.800 – 3.000 mm, suhu udara 19-280C dan kelembaban 80%, sehingga di Papua banyak terdapat hutan hujan tropis yang sangat sesuai dengan habitat dari burung kakatua raja ini.

Hutan hujan tropis adalah hutan yang memiliki pohon-pohon yang tinggi sehingga burung kakatua raja senang hidup di daerah ini karena burung kakatua raja ini senang bertengger dan membuat sarangnya di pohon-pohon yang tinggi.

Selain itu burung kakatua raja banyak menghabiskan waktunya untuk terbang di bawah kanopi hutan yang tinggi dan kondisi ini kebanyak hanya terdapat di hutan hujan tropis yang memiliki kanopi ( lapisan-lapisan cabang pohon beserta daunnya yang terbentuk oleh rapatnya pohon-pohon hutan hujan ) yang tinggi karena pohon-pohon yang tumbuh cukup tinggi.

Selain itu karena Papua terletak di daerah tropis, karenanya hutan-hutan di Papua menerima banyak sinar matahari. Sinar matahari ini diubah menjadi energi oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis. Karena banyak sinar matahari, maka banyak pula energi yang terdapat di hutan-hutan di Papua.

Energi ini tersimpan di vegetasi tumbuhan yang kemudian dikonsumsi oleh burung kakatua raja tersebut sehingga burung kakatua raja ini tidak akan kekurangan makanan yang menyebabkan burung kakatua raja ini sedikit yang memiliki kebiasaan bermigrasi untuk mencari makanan di daerah lain.

Burung Kakak Tua raja Dari Irian


Konservasi Burung Kakatua Raja
Flora dan fauna adalah kekayaan alam yang dapat diperbaharui dan sangat berguna bagi kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya di bumi, walaupun spesies ini terancam oleh hilangnya habitatnya di hutan dan penangkapan liar yang terus berlanjut untuk perdagangan,

Kakatua Raja masih sering ditemukan di habitatnya. Kakatua Raja dievaluasikan sebagai beresiko rendah di dalam IUCN Red List. Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix I.

Burung Kakatua Raja termasuk satwa liar yang dilindungi undang-undang, sebagaimana tertuang dalam Lampiran PP No. 7 Tahun 1999, dan ada kententuan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 bahwa:

1. Barangsiapa dengan Sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; (Pasal 21 ayat (2) huruf a), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));

2. Barang Siapa Dengan Sengaja menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati (Pasal 21 ayat (2) huruf b), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));

3. Dengan Sengaja memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; (Pasal 21 ayat (2) huruf d), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
Untuk melindungi binatang dan tanaman yang dirasa perlu dilindungi dari kerusakan maupun kepunahan, dapat dilakukan beberapa macam upaya manusia dengan Undang-Undang, yaitu seperti:
Cagar Alam
  • Pengertian / definisi cagar alam adalah suatu tempat yang dilindungi baik dari segi tanaman maupun binatang yang hidup di dalamnya yang nantinya dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan di masa kini dan masa mendatang. Cagar alam di papua yang terdapat burung kakatua raja contohnya Cagar Alam Pegunungan Cyclops yang terdapat di daerah jayapura dekat dengan batas internasional dengan Papua New Guinea.
Taman Margasatwa
  • Adalah suatu perlindungan lokasi yang dijadikan sebagai tempat obyek penelitian atau objek wisata yang memiliki koleksi flora dan atau fauna yang masih hidup. Contoh taman margasatwa yang memiliki burung kakatua raja adalah Taman Margasatwa Ragunan.
Sumber : Wikipedia Dan Arafura Kingdom

Burung Cucak Kebon | Trucukan | Jogjog

Burung Trucukan atau Jogjog
Burung Cucak Kebon atau banyak juga yang bilang trucukan atau jogjog pastinya para hobi burung mengenalnya dan burung jenis ini pastinya ada di setiap pasar burung dimanapun, karena burung cucak kebon ini sering banyak di tangkap.

Untuk masalah harga memang burung tersebut tidak terlalu mahal dan banyak juga yang memeliharanya untuk sekedar hobi karena untuk memeliharanya cukup gampang tidak terlalu sulit hanya dengan memberi dia makan buah - buahan dia pun pasti senang.

Merbah cerukcuk serumpun dengan burung cucak - cucakan  ( Family  Pycnonotidae ) seperti salah satunya yaitu burung kutilang mungkin merupakan burung yang paling banyak dipelihara oleh anak-anak di Jawa, terutama yang disukai adalah burung yang masih muda atau masih kecil, sehingga dapat dijinakkan.

Burung yang telah jinak kerap kali tidak akan pergi jauh dari kandangnya, walaupun dilepaskan dengan bebas, setiap saat atau setidaknya sore hari akan kembali untuk meminta makanan kepada pemeliharanya, dalam tangkaran, burung ini biasanya diberi makan buah-buahan seperti pepaya dan pisang, dan serangga kecil seperti ulat, belalang atau cengkerik.

Burung trucukan atau burung merbah atau disebut juga cucak-cucakan ( familia Pycnonotidae ) termasuk ke dalam suku burung kicau kawasan Asia tropis dan Afrika, burung dengan suara yang merdu dan variasi lagu beragam ini dalam bahasa Inggris disebut Bulbuls. ( Yellow-vented Bulbul ) Pycnonotus goiavier

Nama merbah ( bahasa Melayu ) merujuk pada jenis burung kicauan, berbulu suram dan tinggal di semak belukar, termasuk di dalamnya adalah jenis-jenis burung pelanduk, tepus, bentet dan lain-lain.

Burung cucak kebon atau Trucukan ini bukan jenis  burung petarung, namun burung ini bisa melakukan pertahanan untuk menjaga daerah teritorialnya. karena mempunyai kemampuan adaptasi yang cukup  tinggi, maka burung ini mudah jinak kepada manusia.

Burung ini berukuran sedang, panjang tubuh total (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 20 cm, dan sisi atas tubuh ( punggung, ekor ) berwarna coklat kelabu gelap, sisi bawah ( tenggorokan, dada dan perut ) putih kusam. Mahkota kehitaman, alis dan sekitar mata putih, dengan kekang ( garis di depan mata ) hitam. Sisi lambung dengan coretan-coretan coklat, dan penutup pantat berwarna kuning, iris mata berwarna coklat, paruh hitam dan kaki abu-abu merah jambu.

Merbah cerukcuk menyukai tempat-tempat terbuka, semak belukar, tepi jalan, kebun, dan hutan sekunder, burung ini sering berkelompok, baik ketika mencari makanan maupun bertengger, dengan jenisnya sendiri maupun dengan jenis merbah yang lain, atau bahkan dengan jenis burung yang lain, tidur berkelompok dengan jenisnya, di ranting-ranting perdu atau pohon kecil.

Seperti umumnya merbah, makanan burung ini terutama adalah buah-buahan yang lunak, di pekarangan, burung ini kerap melubangi buah pepaya dan pisang yang telah masak, selain itu ia juga memangsa aneka serangga, ulat dan hewan kecil lainnya seperti cacing dan merbah cerukcuk sering menghabiskan waktu lebih lama untuk mencari makanan di atas tanah daripada jenis merbah lainnya.

Berbunyi nyaring dan berisik, cok, cok, ..cok-cok ! ; siulan pendek cuk-co-li-lek.. berulang, kadang-kadang dengan cepat; atau nyanyian bersuara lemah mirip gumam atau gerutuan burung, orang bilang biasanya dengan istilah, golokcilik,golokcilik, golokcilik begitulah bunyi kicauan serupanya.

Sarang cerukcuk berbentuk cawan dari anyaman daun rumput, tangkai daun atau ranting yang halus, dijalin dengan serat tumbuhan dan menempel pada dahan. Di Jawa Tengah didapati pula sarang yang dibangun di sela-sela buah pisang, telur dua atau tiga butir, berwarna keputihan berbintik coklat atau ungu, tercatat bersarang sepanjang tahun, dengan puncaknya Maret sampai Juni.

Burung ini menyebar luas di Asia Tenggara, Semenanjung Malaya dan Filipina. Di Indonesia didapati di Sumatra dan pulau-pulau di bagian timurnya, Kalimantan, Jawa dan Bali. Diduga diintroduksi ke Lombok dan Sulawesi Selatan. Umum terdapat sampai ketinggian 1.500 m dpl.

Beda Jantan Dan Betina Burung Trucukaan ini banyak yang mengatakan bahwa jika jantan  di dalam rongga mulutnya akana terlihat berwarna Kuning dan dapat di pastikan Burung Trucukan Jantan.

Dan jika burung trucukan jantan jika dia berkicau atau ngriwik akan terlihat jambul di atas kepalanya dan terdengar kicauannya atau ngriwiknya lebih keras dari pada betina.

Namun ada pula masukkan yang banyak mengatakan bahwa kelas burung pemakan buah - buahan ini seperti, burung cucak - cucakan kebon, kutilang dan cucak rowo ( Cucak Ijo tidak termasuk ) yang rewel atau yang mempunyai suara ngerol dan ngeropel adalah jenis kelamin yang Betina.

Dunia Burung Dan Hewan dan Wikipedia serta Berbagai Sumber

Masih Adakah Kakatua Jambul Kuning

Masih Adakah Kakak Tua Jambul Kuning
Tahukah anda bahwa Burung Kakatua Jambul Kuning, Yellow-crested Cockatoo ( Cacatua sulphurea ) dari Indonesia diindikasikan terancam punah. 

Berdasarkan data yang dikeluarkan LSM perlindungan satwa liar, ProFauna Indonesia, setidaknya ada sekitar 200 – 300 ekor burung Kakatua Jambul Kuning diperdagangkan di berbagai pasar burung di Jawa dan Bali. Selain itu, juga diselundupkan ke Singapura melalui Batam sepanjang tahun 2002- 2003.

Pada tahun 2004 yang silam ProFauna mencatat puluhan ekor burung Kakatua Jambul Kuning tangkapan dari alam berada di pasar burung Singapura di kawasan Serangoon Ave dan Pasar Catucjak di Bangkok. "Jika dibiarkan, burung ini akan habis. 

Di Pasaran dunia, burung ini banyak diklaim sebagai hasil penangkaran. Padahal diduga keras hasil tangkapan dari alam," kata Koordinator Hubungan Internasional ProFauna Indonesia, Hardi Baktiantoro kepada wartawan di Kantor ProFauna Indonesia di Malang, Selasa (21/9).

Menurut Hardi, burung ini sebenarnya telah dilindungi secara nasional melalui UU No. 5 tahun 1990 dan PP No. 8 tahun 1999. Meski demikian masih belum aman dari perburuan dan perdagangan. Rencana pemulihan species ini yang dilakukan sejak tahun 1997 bertujuan untuk mengurangi perburuan, penegakan hukum dan peningkatan kesadaran masyarakat. "Tetapi, hasilnya kurang memuaskan," ujar Hardi.

Pemerintah Indonesia sudah meminta bantuan dunia internasional untuk turut melindungi jenis ini dengan memasukkannya ke dalam Appendix I CITES yang isinya melarang seluruh bentuk perdagangan komersial kecuali untuk alasan riset ilmiah. Sedangkan dunia internasional sudah berupaya melindungi burung ini dengan memasukkannya dalam Appendix II CITES pada tahun 1981 yang isinya boleh diperdagangkan namun dalam kuota tertentu atau terbatas.

Uni Eropa pada tanggal 14 Desember 1989 memberlakukan penghentian sementara import burung ini dan dibakukan melalui EC Reg.3626/82 dan EC Reg. 338/97. Amerika Serikat melalui US Wild Bird Conservation Act tahun 1992 juga telah memboikot seluruh perdagangan satwa liar yang masuk Appendix II CITES.

Rencananya, 166 negara anggota Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES) akan bertemu di Bangkok pada tanggal 2–14 Oktober 2004. Pada konferensi yang membahas tata niaga perdagangan satwa liar dan tumbuhan liar internasional, Burung Kakatua Jambul Kuning akan diusulkan dilindungi secara internasional.

Pertemuan yang bertajuk Conference of Parties XIII (COP XIII), menurut Hardi, juga akan membahas sekitar 50 proposal yang menyangkut konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan beberapa species satwa liar dan tumbuhan liar. Satwa-satwa lain yang diusulkan untuk dilindungi adalah Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) yang diusulkan menjadi appendix I, semua jenis Bulus (Amyda spp) yang diusulkan masuk dalam apendik II, dan Labi-labi Moncong Babi (Carrettochelys insculpta) yang diusulkan masuk appendix II.

Konferensi ini akan dihadirti oleh 70 organisasi internasional, termasuk ProFauna, yang tergabung dalam Species Survival Network (SSN). ProFauna Indonesia hadir sebagai observer dari Indonesia untuk yang ketiga kalinya setelah COP XI di Kenya, COP XII di Santiago, Chile dan COP XIII di Bangkok, Thailand. 

Sumber : www.tempo.co

Burung Bulbul | Nightingale

burung bulbul nightingale
Bird Nightingale
Nightingales bird namanya karena burung ini sering berkicau atau bernyanyi di malam serta siang hari, nama Nightingale ini telah lama digunakan kurang lebihnya dari 1.000 tahun yang lampau, bahkan sangat dikenal di Anglo-Saxon.

Burung ini mempunyai suara yang sangat tajam dalam berkicau, biasanya bernyanyi saat fajar, selama satu jam sebelum matahari terbit, dia berkicau dalam mempertahankan wilayah kekuasaannya, kicauan yang paling khas dari irama ocehannya adalah crescendo bersiul keras.

The Nightingale umum atau ( Luscinia megarhynchos ), atau bisa di sebut juga dengan sebutan burung bulbul ini adalah merupakan salah satu dari burung master terfavorit untuk burung kicauan seperti Murai Batu, Kacer, Pentet, Pleci dan burung-burung lainnya.

Makanannya yaitu campuran buah-buahan, biji-bijian, dan kacang-kacangan serangga, dan burung Nightingales memiliki banyak musuh dari hewan predator di alamnya, musuh mereka yaitu hewan mamalia seperti kucing, tikus, rubah dan juga diburu oleh burung pemangsa besar.

Habitatnya di hutan-hutan dan semak-semak belukar di wilayah Eropa dan sering berimigrasi ke wilayah Asia Barat Daya, walaupun tidak ditemui di habitat aslinya di wilayah Amerika Utara dan Amerika Barat, perkembangbiakan Nightingale pada musim kawin di negara asalnya sangat berbeda dengan iklim dan Geografis di Indonesia, sehingga Nightingale sulit ditangkarkan ataupun dipelihara di Indonesia, dan merupakan salah satu burung yang dilindungi di negara asalnya.

Di negara asalnya burung ini sangat populer, selain sering dibuat sebagai narasi dicerita-cerita legenda dan sajak-sajak di setiap perayaan besar, seperti musisi ternama Kitaro pun terinspirasi oleh kicauan merdu Nightingale.
burung malam

Ini Dia Musiknya

Akankah Cipoh | Citoh | Cipew Masuk Lomba

burung cipoh kacat
Aegithina Tiphia
Cipoh Kacat, nama Latinnya adalah Aegithina Tiphia, dan burung yang sering dinamakan burung citoh, cipow, atau cipew, ada juga yang bilang sirpu dan sirtu, sesuai dengan nama burung di daerah masing-masing, tapi entah mengapa burung ini tidak terlalu banyak di gemari oleh pecinta burung.

Di kalangan penggemar burung berkicau burung ini sepertinya tidak begitu marak, padahal dari segi kecerdasan dalam membawakan kicauannya burung ini tidak kalah kemampuannya untuk bersaing dengan burung-burung kicauan lainnya yang saat ini digemari seperti pleci, gelatik, ciblek atau burung-burung lokal kecil lainnya.

Sekilas burung ini mempunyai tubuh yang menyerupai atau sebesar burung Decu, atau jika anda kenal sebesar burung tledekan atau jempolan, hanya saja dibedakan dengan warna kuning kehijauan.

Harga burung ini di pasaran sepertinya tidak bisa melonjak tinggi mengikuti perkembangan harga dari burung-burung kicauan lain yang lebih populer seperti burung pleci, gelatik dan ciblek, mungkin saja jika burung citoh ini sudah masuk dalam daftar kelas di perlombaan akan jauh lebih mahal.

Burung cipoh termasuk suku Chloropseidae atau cica-daun sebagaimana burung cucak hijau, burung sirpu atau citoh ini banyak tersebar di wilayah asia tenggara, sumatera, jawa dan kalimantan, dan dalam perawatannya tidak terlalu sulit karena burung ini menyukai makanan seperti kroto, jangkrik, belalang dan bisa jiga buah-buahan seperti pisang.

Membedakan burung Cipo Atau sirtu Jantan dan Betina, adalah pada burung jantan ukuran tubuh biasanya lebih panjang dari burung betina juga pada warna lidah bagian dalam pada burung sirtu jantan berwarna hitam, burung citoh jantan mempunyai suara yang lebih bervariasi dibandingkan dengan burung betina, sedangkan warna bulu pada burung jantan lebih tegas dan tajam dibanding burung betina.

Mungkin saja bila burung ini sudah mendapat kelas khusus di arena lomba, tidak menutup kemungkinan akan menjadi ramai dan tentu saja harga jualpun pasti akan naik, semoga saja burung citoh ini bisa mendapat tempat di arena kontes menyusul burung lokal lainnya, atau mungkin saja burung citoh ini sudah ada lombanya di tempat daerah anda, bersiaplah saja teman.

Dengar Suara Burung Cipoh 1 >> KLIK
Dengar Suara Burung Cipoh 2 >> KLIK

Ragam Burung Apung

Burung Apung
Burung Apung Sawah ( India ),
 Anthus Rufulus
Burung Apung atau burung Branjangan, sekilas di lihat sama seperti dengan burung branjangan, dari segi warna dan ukuran tubuh serta katuranggan lainnya, tapi ada yang membedakan burung apung dan burung branjangan yaitu nama latin dari keduanya.

Burung Apung memiliki nama latinnya adalah Anthus dari suku Motacillidae, dan marga anthus ini mempunyai banyak marganya hingga kurang lebihnya 40 Species, sedangkan burung branjangan memiliki nama latinnya Mirafra, dan lebih di kenalnya dengan sebutan Mirafra Javanica, tapi jika dilihat seperti tidak ada perbedaan yang sangat mencolok, mungkin tipis sekali perbedaannya.

burung branjangan
Burung Branjangan


Apung adalah nama sejenis burung pemakan serangga dan burung ini juga memiliki cara terbang khas, menggelombang, dan kerap hinggap di tanah sama seperti branjangan dan apung ini memiliki persebaran kosmopolitan, banyak ditemukan di hampir semua bagian dunia kecuali di tengah padang pasir yang kering, di hutan lebat, dan di Antartika, dalam bahasa Inggris (dan juga Malaysia) burung-burung Apung ini dikenal sebagai pipit, namun tidak sama dengan burung pipit dalam bahasa Indonesia.

Burung-burung Apung ini bertubuh ramping, berukuran sedang, dan berjalan dengan anggun di darat, serta mempunyai Paruhnya yang ramping, ( mungkin yang kita kenal kalo branjangan paruhnya agak tebal ), kakinya kecil dan panjang, ekornya yang panjang kadang-kadang digoyangkan ketika berjalan.

Apung memiliki penampilan yang cenderung konservatif, warna bulunya umumnya tidak menarik, kecoklatan atau kekuningan, dengan bintik-bintik atau coret-moret hitam, warna yang cocok untuk menyamar di atas tanah atau bebatuan.

Panjang tubuhnya berkisar antara 16 hingga 21 cm, meski yang terkecil, apung ekor-pendek, hanya sekitar 11,5–12,5 cm, dan mempunyai berat tubuh antara 15–38 g, baik dari ukuran tubuh maupun dari warna bulunya, tampak tidak ada atau hanya ada sedikit dimorfisme seksual (perbedaan di antara jantan dan betina). 

Satu ciri apung yang tidak biasa di kalangan burung petengger ialah bulu tersiernya yang seluruhnya menutupi bulu primer manakala sayapnya terlipat, fenomena ini diyakini berlaku untuk melindungi bulu-bulu primer yang penting untuk terbang, dari kerusakan akibat sinar matahari yang terik di habitatnya.

Makanan Apung ini berupa serangga dan invertebrata kecil lainnya, apung biasa menjelajahi tempat-tempat terbuka seperti persawahan, bantaran sungai, dan tepi jalan, bila terganggu, terbang rendah menggelombang dan hinggap kembali dalam jarak yang tidak terlalu jauh.

Apung bersarang di antara rerumputan di atas tanah, bertelur hingga sekitar enam butir, sebagaimana kerabatnya yang lain, apung bersifat monogami dan mempertahankan teritori tempat tinggalnya dan banyak spesiesnya yang bersifat migran.

Apung Kijang, Anthus Cervinus


Apung Petchora, Anthus Gustavi

Apung Richard, Anthus Richardi

Telah di jelaskan tadi bahwa burung Apung ini memiliki Marga yang beranggota lebih dari 40 spesies, dan menjadikannya yang terbesar dalam suku Motacillidae, jumlah anggota tepatnya masih dalam perdebatan, sebagian ahli mendaftar hanya sekitar 34 spesies dalam marga ini. 

Burung Apung Tanah Anthus novaeseelandiae dari Selandia Baru
Apung Tanah, Anthus Novaeseelandiae ( Selandia Baru )
Sebagai teladan, apung tanah, Anthus novaeseelandiae, yang sekarang ini memiliki 9 anak jenis (subspesies) yang tersebar di Selandia Baru, Australia dan Papua, sebelumnya juga mencakup apung sawah dan apung richard dari Benua Asia, serta apung afrika yang menyebar di Afrika, tambahan lagi, populasi Australia dan Selandia Baru kini diusulkan untuk dipisah sebagai spesies baru atau bahkan perlu dipisahkan antara populasi di pulau-pulau kecil di selatan Selandia Baru dengan yang berada di daratan utama pada pihak yang lain, kesulitan taksonomis juga muncul sebagian dikarenakan kemiripan yang sangat di antara anggota-anggota marga ini.

Dibawah ini ada Apung Zaitun yang bernama latinnya adalah Anthus Hodgsoni, salah satu dari Marga Anthus dan salah satu dari 40 Species nya, bisa di dengar suaranya.

 >> sumber diambil dari Wikipedia : Burung Apung, dan Burung Apung Zaitun

Apung Zaitun, Anthus Hodgsoni





Burung Poksay / Poksai Hitam

burung poksay ( garrulax chinensis )
Sebut saja dia adalah burung poksai hitam, dengan bahasa Latinnya adalah Garrulax Chinensis, burung poksay hitam = CHINA / MANDARIN ( Black-throated Laughingthrush Garrulax chinensis ), ini termasuk kedalam suku atau masuk didalam kerabat burung kuda-kuda, atau bisa juga dengan bahasa latinnya red fronted laughingthrush / Garrulax Rufifrons.

Banyak Jenis burung poksai ini, dari poksai jambul putih,  dan poksai Hitam, dan burung poksai ini berasal dari China, Thailand dan menurut sumber informasi burung poksai ini masuk ke Indonesia pada tahun 1950, lumayan cukup lama, akan tetapi di akhir tahun 90an hingga saat ini menurut pantauan saya burung ini sudah sangat jarang di temui di pasar-pasar burung, sama halnya seperti jenis burung Import lainnya yaitu Burung Hwa Mei atau wambi.

Burung poksai atau garraulax palliatus atau yang dikenal juga dengan sebutan The Sunda Laughingthrush banyak ditemukan di negara Brunei, Indonesia dan Malaysia dan burung poksai yang terdapat di Indonesia adalah jenis poksai kuda atau yang disebut Garrulax Rufifrons.
Dan Konon katanya, di negeri asalnya burung ini dinamai Pai hu. Poksay dianggap burung kuburan karena senang memilih tempat tinggal yang sunyi dan rindang seperti kuburan sama halnya dengan burung wambi juga.

Burung Poksai dialamnya selalu hidup berpasangan dan burung ini mempunyai ciri jambul dan juga ekor yang cukup panjang, habitat alamnya yaitu daerah subtropis atau tropis atau daerah hutan tropis yang lembab di dalam semak belukar, atau juga daerah pergunungan yang cukup lembab.

Burung poksai biasanya mencari makanan di percabangan pohon yang lebih rendah atau bisa juga mencari makan di atas tanah, makanan alami burung ini adalahnya serangga kecil yang hidup di antara dedaunan pohon, biji-bijian, atau bisa juga makan buah-buahan yang terjatuh dari atas pohon, juga pemakan serangga dan tawon madu.

Dan ini salah satu suara dari burung poksai hitam

Burung Bondol Haji - Emprit atau Pipit

burung emprit atau pipit
Indonesia adalah negara yang kaya mempunyai banyak ragam burung, salah satunya adalah Burung Emprit atau Pipit atau banyak orang jawa menyebutnya dengan istilah Burung Bondol Haji yang bahasa latinnya adalah Lonchura Maja.

Sekarang Burung Emprit ini mungkin saja lepas dari incaran pemburu - pemburu burung sawah di karenakan burung ini kalah saing dengan burung Pleci.

Burung Bondol Haji ini sering banyak kita jumpai bergerombol di sawah - sawah, apalagi saat padi sudah mulai panen dia akan memakan padi, dan ada cerita apabila burung ini kita rawat sedari piyik atau anakan dan kita master dengan kenari, ciblek dan burung - burung kecil lainnya seperti gelatik, kelak akan mendapat hasil suara yang bagus, ya burung emprit atau pipit bondol haji rasa gelatik, kenari ataupun ciblek dan lainnya, bagaimana apakah anda ingin mencobanya.
Burung ini termasuk dari golongan burung Estrildidae, dan burung ini banyak hidup dan berkembang di Pulau Jawa, Bali dan Semenanjung Malaya, mengapa burung ini bisa di sebut burung bondol haji, mungkin saja karena burung ini mempunyai warna bulu putih yang ada di kepalanya yang seolah - olah seperti memakai peci berwarna putih yang biasanya dalam masyarakat Indonesia peci putih ini dipakai setelah pulang dari berangkat Haji, ada - ada saja ya...

burung emprit jawa


Penampilannya bagus, dengan warna kecoklatan pada seluruh badan, kecuali pada bagian kepalanya yang disaput warna putih, sehingga seperti “wak haji” pakai sorban dan topi. Sepasang bondol haji, dapat bersarang di berbagai pohon sepanjang dirasa aman. Pada kondisi tertentu, si jantan dan betina dapat membangun sarang pada ketinggian hanya 150 cm dari permukaan tanah. Umumnya menyukai pohon-pohon palem untuk menempatkan sarang.

Burung Pipit adalah nama umum bagi sekelompok burung kecil pemakan biji-bijian yang menyebar di wilayah tropis Dunia Lama dan Australasia. 

Burung-burung ini sekarang dimasukkan ke dalam suku Estrildidae, meski ada juga yang menganggap kelompok ini adalah anak-suku ( Estrildinae ), bagian dari suku Passeridae yang lebih luas. Sebelumnya, kelompok burung ini ditempatkan dalam suku manyar-manyaran, Ploceidae.

Jenis-jenis pipit ( termasuk bondol dan gelatik ) senang berkelompok, dan sering terlihat bergerak dan mencari makanan dalam gerombolan yang cukup besar, burung-burung ini memiliki perawakan dan kebiasaan yang serupa, namun warna-warni bulunya cukup bervariasi, ukuran terkecil dimiliki oleh Nesocharis shelleyi yang panjang tubuhnya sekitar 8,3 cm (3,3 inci), meski yang bobotnya paling ringan adalah Estrilda troglodytes (6 g), sedangkan yang paling besar adalah gelatik jawa (Padda oryzivora), yang panjang tubuhnya 17 cm (6,7 inci) dan beratnya 25 g.

Kebanyakan burung pipit tidak tahan dengan iklim dingin dan memerlukan habitat hangat seperti di wilayah tropika, namun ada pula sebagian kecil jenis yang beradaptasi dengan lingkungan dingin di Australia selatan. Pipit bertelur 4-10 butir, putih, yang disimpan dalam sarangnya yang berupa bola-bola rumput.


Sumber : Wikipedia dan Komunitas Pecinta Hobi Burung Berkicau

Merdunya Kicauan Burung Kutilang

Burung ketilang atau kutilang, sebut saja kutilang, salah satu burung merbah atau pemakan buah ini adalah burung yang paling gacor di antara burung berkicau, tapi itu menurut saya, bagaimana tidak, coba anda beli satu burung kutilang dan sesampainya di rumah pasti akan bunyi, trilulit..triluliit, cengklik...cengklik.

Burung ketilang ini dapat menirukan suara burung-burung lain, apalagi jika anda membelinya dari anakan burung ini dapat di master dengan burung kacer, anis, ciblek dan burung berkicau lainnya, sudah barang tentu hasilnya sangat lumayan, tapi jika anda ingin membuat ocehan suara kutilang ini rasa anis, kacer, ciblek dan jenggot janganlah mendempetkan burung bakalan atau anakan kutilangan anda dengan kutilang lagi jika akan suaranya menjadi suara aslinya.

Tapi saya sendiri tidak mengetahuinya atas dasar apa dan mengapa suara burung kutilang ini sangat di haramkan dan dipantangkan oleh para kicau mania burung lomba, agar burung-burung gacoan nya tidak mempunyai suara burung kutilang ini, lagu dari kicauan burung kutilang banyak dihindari penghobi burung khususnya pelomba agar tidak masuk ke atau dibawakan burung lain, khususnya murai batu, kacer, anis merah dan sejumlah burung jenis lainnya.

Burung ini menurut saya kalah gengsi dengan burung pleci cicikacamata, dan burung ini sangat dipandang sebelah mata oleh para pehobi burung, coba anda main dipasar-pasar burung atau berkumpul dengan teman-teman penggemar kicau mania pasti anda akan di tertawakaan jika menyebut atau bisa saja anda ketahuan membeli burung kutilang, saya sendiri tidak habis fikir, apa yang salah pada burung yang satu ini, padahal burung inipun mempunyai suara emas yang cantik, seakan tidak ada harganyakah burung ini, yaah..yaahh ini pengalaman saya saat berkumpul dengan para pehobi kicau mania, atau mungkin saja terjadi pada tempat dan diri anda.

Sekilas Informasi Burung ini adalah, Cucak Kutilang atau Kutilang yaitu sejenis burung pengicau dari suku Pycnonotidae, Orang jawa barat menyebutnya dengan cangkurileung, orang Jawa tengah menamainya ketilang atau genthilang, 

Mengikuti bunyi suaranya yang khas, dalam bahasa Inggris burung ini disebut Sooty-headed Bulbul, sementara nama ilmiahnya adalah Pycnonotus aurigaster karena mengacu pada bulu-bulu di sekitar pantatnya yang berwarna jingga (Gr.: aurum emas, gaster perut)

Kebiasaan burung Cucak kutilang kerap mengunjungi tempat-tempat terbuka, tepi jalan, kebun, pekarangan, semak belukar dan hutan sekunder, sampai dengan ketinggian sekitar 1.600 m dpl, sering pula ditemukan hidup meliar di taman dan halaman-halaman rumah di perkotaan. Burung kutilang acapkali berkelompok, baik ketika mencari makanan maupun bertengger, dengan jenisnya sendiri maupun dengan jenis merbah yang lain, atau bahkan dengan jenis burung yang lain.

Seperti umumnya merbah, makanan burung ini terutama adalah buah-buahan yang lunak, burung kutilang ini  sering menjengkelkan petani karena kerap melubangi buah pepaya dan pisang yang telah masak di kebun, namun sebaliknya burung ini menguntungkan petani karena juga memangsa berbagai jenis serangga, ulat dan aneka hewan kecil lainnya yang menjadi hama tanaman.

Kelompok burung ini acap terbang dengan ribut, berbunyi nyaring cuk, cuk, ..tuit,tuit! ; atau bersiul berirama yang terdengar seperti ke-ti-lang.. ke-ti-lang.. berulang-ulang di atas tenggerannya.

Burung Kutilang juga memiliki kebiasaan untuk berjemur dan mandi embun setiap pagi,hal ini berguna untuk menjaga bulunya yang terus di minyaki, minyak ini berasal dari bagian belakang dekat ujung ekornya yang berhubungan dengan badan, burung Kutilang juga memiliki kebiasaan menaikkan jambulnya bila senang maupun ingin buang air besar, burung Kutilangpun memiliki masa "Mabung" yaitu saat dimana bulu yang lama rontok dan berganti bulu yang baru, di saat Mabung burung Kutilang akan cenderung lebih diam baik secara suara maupun gerakan.

Sarang cucak kutilang berbentuk cawan dari anyaman daun rumput, tangkai daun atau ranting yang halus. Telur dua atau tiga butir, berwarna kemerah-jambuan berbintik ungu dan abu-abu, tercatat bersarang sepanjang tahun kecuali Nopember, dengan puncaknya April sampai September.

Burung kutilang menyebar luas di Tiongkok selatan dan Asia Tenggara (kecuali Malaysia), Jawa serta Bali. Diintroduksi ke Sumatra dan Sulawesi, beberapa tahun yang silam burung ini juga mulai didapati di Kalimantan.

Burung kutilang sangatlah merdu kicauanya dan mudah di dapat dipasar burung, banyak yang mencari burung kutilang untuk sekedar dan di pelihara di rumah, mengapa harus burung kutilang, karena menurut saya burung ini sangat mudah perawatanya dan pakanya serta kicauannya sangat cantik, burung kutilang adalah burung yang suka memakan pepaya, pisang, dan serangga lainya, bisa dikatakan burung pemakan segalanya.

Sumber wikipedia, berbagai sumber dan Komunitas Pecinta Hobi Burung Berkicau

Mau Mendengarkan suara CANTIK burung kutilang silahkan dengar dan download

DOWNLOAD